Pantaskah Menjalin Asmara dengan Dosen?
Cinta memang buta, tak mengenal waktu, tempat dan usia. Tapi, pantaskah panah
asmara menembus orang yang kita segani di sekolah atau bangku kuliah? Satu hal
yang pasti, tidak sedikit (maha)siswi yang bersedia kencan, bahkan "tidur" dengan
guru atau dosen mereka. Banyak juga (maha)siswa yang ngencanin guru atau dosen
wanita. Mungkin ada di antara Anda yang mengalaminya. Bagaimana pendapat
Anda?
Ini kisah nyata. Ada salah satu teman perempuan yang menjalin hubungan dengan
seorang dosen. Tidak ada masalah dari segi usia, karena dosen itu termasuk golongan
dosen muda. Hanya saja, kisah cinta mereka telah menimbulkan conflict of interest
dalam batin si dosen.
Bagaimana tidak, "Hampir setiap laporan penelitian saya, dia yang bikin," katanya.
"Materi dan bahan-bahanya memang dari saya, tapi pemaparan, isi laporan dan
analisisnya, dia yang buat. Enak, kan?" katanya dengan nada bertanya, seolah minta
pembenaran. Bisa jadi, tapi apakah hal itu sesuai dengan kode etik pendidikan?
Mungkin enak untuk si (maha)siswi. Tak heran, banyak di antara anak didik yang
-mencoba- menjalin hubungan dengan guru atau dosen mereka. Motifnya pun
bermacam-macam. Ada yang suka dengan penampilan pendidik yang -sebagian besarcool,
ada juga yang mencari figur yang bertanggung jawab. Tapi benarkah hubungan
itu didasari oleh cinta?
Pasalnya, ada juga (maha)siswi yang melakukan hal itu untuk tujuan tertentu, yakni
untuk mendapatkan nilai ujian yang tinggi. Dan terlepas itu semua, apakah orang yang
berprofesi sebagai guru atau dosen, memiliki porsi tanggung jawab yang lebih tinggi
dibanding orang lain? Dan apakah yang dilakukan guru atau dosen -menjalin
hubungan asmara dengan murid- itu benar?
Sebagai bahan perbandingan, mari kita simak polling yang dilakukan oleh sebuah
situs pendidikan di Inggris. Polling itu diikuti oleh 500 mahasiswa dari 25 universitas
di Inggris. Hasilnya, lebih dari 47% pelajar ingin melakukan hubungan seks dengan
para akademisi agar bisa lulus dengan nilai tinggi. (imaulana)